Masyarakat Indonesia memang dikenal sebagai bangsa maritim. Laut menjadi salah satu ciri khas bangsa ini. Karenanya, aktivitas yang berkaitan dengan laut seakan tak terpisah dengan kehidupan masyarakat. Terutama yang tinggal di daerah pesisir. Tidak hanya untuk mencari penghidupan, laut juga menjadi tempat bermain. Seperti permainan jung katil di Tanjung Kuras. DENGAN langkah pasti dan raut wajah bersuka, beberapa masyarakat Tanjung Kuras, Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak membawa perahu jung katil turun ke beting (pantai). Warna-warni layarnya berpadu kontras dengan cerahnya langit biru membuat suasana pantai Beting Selayang semakin indah jelang terbenamnya mentari, Minggu (7/11/2021) sore itu.
Jung atau miniatur perahu layar merupakan permainan tradisonal khas masyarakat yang tinggal di Riau bagian pesisir. Jung biasanya terbuat dari kayu ringan. Biasanya, warga di sana membuatnya menggunakan kayu pulai. Keunikan jung katil ini hanya bisa dimainkan dengan mengandalkan angin yang kencang untuk mendorong perahu agar bergerak mengarungi laut. Jadi tidak menggunakan mesin sama sekali.
Melalui layar yang terpasang di atas jung, angin “ditampung” sehingga jung dapat bergerak ke bibir pantai. Biasanya, jung dimainkan sendiri maupun berkelompok. Di beberapa daerah pesisir Riau, permainan jung katil ini sudah dijadikan event tahunan dan diperlombakan.
Alfian warga Tanjung Kuras selaku pengerajin dan atlet jung menjadi satu dari banyak orang yang biasa mengikuti perlombaan permainan tradisional ini di beberapa daerah di Riau. Dengan pengalamannya dan kemahirannya membuat jung dan didukung tempatnya tinggal yang memiliki beting, Alfian dikenal sebagai salah satu pelestari permainan tradisional itu.
Dia juga kerap mengajak masyarakat agar membuat jung dan bermain bersama di kampung. Ajakan itu kerap juga ia sampaikan kepada orang-orang luar kampungnya. “Ayo kita main jung bersama sekaligus melestarikan permainan tradisonal masyarakat melayu pesisir,” ajaknya.
Butuh keahlian tersendiri untuk bermain jung ini. Karena jung dimainkan dengan menggunakan tenaga angin. Jadi dibutuhkan cara yang tepat untuk menyeimbangkan jung agar tidak tumbang dan bisa berjalan lurus sesuai jalur yang ditentukan. Biasanya pemain punya keahlian mengatur anak katil dan memberi beban pada jung. Beban itu bisa menggunakan batu atau timah  Berat beban yang diletakan pada jong biasanya disesuaikan dengan kekuatan angin. Jika angin kencang, jumlah beban yang diletakan lebih banyak. Sebaliknya, jika angin tak kencang beban dikurangi.
Permainan jung juga menjadi penanda betapa masyarakat pesisir Riau sudah terbiasa dengan aktivitas maritim. Karenanya, mempertahankan ciri khas bangsa maritim tak bisa melepaskan dari upaya melestarikan permainan-permainan rakyatnya yang sudah berlangsung sejak lama.

Sumber: https://www.riaucerdas.com/memaknai-kemaritiman-dengan-melestarikan-jung-katil-di-kampung-tanjung-kuras

Bagikan Berita